Pentigraf: TELASIH: Cinta Yang Tak Tersampaikan
TELASIH
Cinta yang Tak Tersampaikan
oleh: Trianto Ibnu Badar at-Taubany
********
TELASIH satu nama yang tiada aku kenal tetapi selalu memposting kembali puisi-puisi yang aku posting dalam satu majalah on line. Puisi-puisi tersebut terkadang dijadikan status dan/atau instagram dirinya. Bahkan postingan tersebut selalu mendapat like yang lumayan dan/atau membuat penasaran setiap yang membaca dalam akun instagram Telasih. Seolah-olah mereka menikmati dan hanyut dalam “puisi plagiasi’ tersebut. Aku bahkan terkadang mengikuti postingan di akun instagram Telasih, tanpa mengajukan komplain atau memberikan komentar, bahwa puisi tersebut adalah ciptaanku. Semua saya biarkan mengalir saja. Pun membuat diriku tersanjung, karena mereka-mereka menikmati karyaku.
Pada suatu ketika “plagiasi puisi” tersebut dikirim dalam akun instgaramku. Telasih rupanya juga tahu, kalo aku juga punya akun instagram dan ia juga tahu jika aku ‘sering ngintip’ akun instagramnya yang memposting puisi-puisi ciptaanku. Sebuah kalimat mengiringi postingannya: “Ma’af mas ya...! Bukannya aku melanggar hak ciptamu ... tetapi aku benar-benar suka akan puisi buatan mas. Semua sangat mewakili hatiku ...”. Kalimat jujur yang keluar dari perkataan dirinya dalam akun instagramku semakin membuatku tersanjung dan penasaran siapa sebenarnya Telasih.
Kegiatan Workshop Penulisan Karya Tulis Fiksi dan Non Fiksi yang difasilitasi PGRI Provinsi beserta Owner Media Pendidikan Provinsi sangat dinikmati yang rata-rata pesertanya adalah para guru. Bahkan target semula hanya sekitar 100 guru membludak 100%, sampai-sampai panitia kewalahan dalam melakukan registrasi peserta. Tetapi intinya panitia tidak mau membuat peserta kecewa jika harus ditolak registrasinya. Akhirnya peserta pun ada yang duduk di luar aula, bahkan mereka ada yang duduk di bawah di lantai tanpa kursi. Mereka pun menikmati semua tanpa ada yang komplain, karena semua sudah mejadi kemauan mereka sendiri bukan kesalahan panitia. Saya kebetulan juga diminta menjadi salah satu narasumber, khususnya dalam penyusunan karya tulis fiksi. Materi penulisan puisi dan cepen menjadi satu aspek yang aku kuasai. Sesuai dengan gayaku, tidak banyak terori yang aku berikan karena aku yakin mereka sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi penulis hanya belum diasah saja. Strategi yang tepat untuk itu adalah strategi Learning by Doing dengan model Reciprocal Teaching dengan pendekatan andragogy yaitu bukan menggurui tetapi mendapmping karena rata-rata mereka adalah para guru yang rata-rata usia mereka sama dengan saya. “Silahkan bapak/ibu menulis puisi bebas. Tuangkan apa yang sekarang ada di dalam benak bapak/ibu dengan kata-kata/kalimat bapak/ibu sendiri. Biarkan mengalir saja. Bahasa boleh campuran apakah bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Arab dan bahasa daerah tidak apa-apa. Pokoknya tulis saja semuanya. Bapak/Ibu saya beri waktu 10 menit. Jika kurang nanti bisa nego ...!” “Grrrr..”. Terdengar suara gemuruh tertawa mereka ketia saya bilang bisa nego. Belum ada 10 menit, hampir 80% peserta sudah mengumpulkan karya mereka. Saya berencana, ada perwakilan dari mereka yang akan membacakan puisinya, dengan jalan saya mengambil secara acak. Seorang gadis semampai berrambut panjang sepinggul, serta-merta mengumpulkan karya puisinya. Gadis itu serta merta segera berbalik tanpa kata-kata setelah puisi aku terima. Dan ... betapa terkejutnya aku, puisi yang dikumpulkan adalah satu dari puisi yang pernah aku tulis dan diposting dalam akun Telasih. Aku bermasud mengejar gadis yang aku yakin adalah Telasih. Tetapi ia sudah di ujung jalan, dan badanya sekonyomg-konyong lenyap ketika sebuah mobil lewat. “Telasih ....???”, gumam dalam bibirku.
*****
Jalan Panjang, Selasa 26 September 2025

Komentar
Posting Komentar