Tokoh Wayang: Prabu KACANEGARA

 

KACANEGARA, Prabu

 


Prabu KACANEGARA adalah nama lain Raden Gathotkaca saat diwisuda menjadi raja di Kerajaan Pringgandani. Ia bernahkota raja mirip dengan Prabu Bomanarakasura (Sitija) raja dari Kerajaan Trajutisna.

Pengukuhan Prabu KACANEGARA menjadi raja di Kerajaan Pringgnadani tidak disetujui oleh sang paman adipati Glagahpitu Raden Brajadenta yang telah dihasut oleh Mahapatih Sengkuni dari kerajaan Astinapiura. Raden Brajamusthi yang diutus Dewi Arimbi untuk memintakan persetujuan Raden Brajadenta tidak mendapatkan hasil, pulang kembali ke Pringgandani dengan tangan hampa.

Raden Brajamusti segera melapor kepada Dewi Arimbi, jika mbalelonya Raden Brajadenta karena dipengaruhi oleh patih Sengkuni. Memang oleh Patih Sengkuni sengaja diadu. Karena jika sampai terjadi perang saudara, Astina akan berpihak dan membantu Raden Brajadenta yang pada akhirnya Glagahpitu akan menjadi kekuasaan Astina. Intinya, Raden Brajadenta akan hadir dalam pengukuhan (wisuda) jika yang menjadi raja bukan Raden Gathotkaca.

Tidak berapa lama, para tamu undangan sudah pada datang dalam pengkuhuhan (wisuda) Raden Gathotkaca menjadi raja Kerajaan Pringgandani. Dewi Arimbi duduk disamping dan mendampingi Raden Gathotkaca. Sementara para adik Dewi Arimbi, Raden Brajalamatan, Brajawikalpa, dan Kala Bendana sibuk sebagai penerima tamu undangan. Para tamu yang hadir adalah Para Pandawa, Prabu Kresna dari Dwarawati, Prabu Baladewa dari Mandura, dan Prabu Matswapati dari Wirata yang menjadi sesepuh para raja.

Setelah para undangan datang semua, acara pengukuhan raja segera dimulai yang dipimpin oleh Prabu Matswapati. Raden Gathotkaca didudukan pada Dampar (Kursi) Kencana, dan dipasangkan mahkota raja. Sejak saat itu Raden Gathotkaca resmi menjadi raja Kerajaan Pringgandani bergelar Prabu Kacanegara. Tetapi Prabu Kacanegara lebih suka dipanggil Gathotkaca, karena terkaiot dengan tugas dan kewajibannya sebagai senopati Kerajaan Amarta. Nama Prabu Kacanegara hanya digunakan acara resmi di Kerajaan Pringgnadani.

Setelah pengukuhan Prabu Kacanegara, dilanjutkan acara makan-makan bersama. Di tengah-tengah acara tiba-tiba, tiba-tiba datang Raden Brajadenta lengkap dengan pasukan Glagahpitu mengamuk. Membuat geger acara resepsi. Raden Bralamatan beserta Raden Brajawikalpa segera memimpin pasukan Pringgandani menghadapi pasukan Glagahpitu. Pasukan Glagah pitu dapat di atasi, tetapi keduannya kalah saat menghadapi Raden Brajalamatan.

Dewi Arimbi sangat marah saat mengetahui perbuatan Raden Brajadenta adiknya, hingga hilang sifat kepuriannya dan berubah menjadi seorang raseksi bernama Hidimbi yang sangat mengerikan. Dan segera menghadapi Raden Brajadenta adiknya. Raden Brajadenta hanya menghindari setiap serangan Hidimbi (wujud Dewi Arimbi saat menjadi raseksi) sambil mengejek jika Hidimbi hingga menmerahkan telinga. Raden Brajadenta menuduh Hidimbi menjual Kerajaan Pringgandani, dan mau menjadi budak para Pandawa. Hal ini membuat Hidimbi semakin marah tak tertahankan.

Raden Brajadenta tampak lebih digdaya daripada Hidimbi. Terlihat meski hanya sekedar, telah membuat Hidimbi kerepotan. Melihat Hidimbi kerepotan menghadapi Raden Brajadenta, Prabu Kresna mendekati Raden Werkudara – membakar hatinya supaya membantu Hidimbi, agar masalah segera selesai. Tetapi Werkudara menjawab sebaliknya, bahwa yang dihadapi Hidimbi itu saudaranya sendiri bukan musuh, mereka berebut warisan Kerajaan Pringgandani. Raden Werkudara tidak mau campur tangan.

Prabu Kresna segera berbalik mendekati Prabu Kacanegara, dan mengatakan jika pengorbanan sang ibu Dewi Arimbi kepada dirinya sangat besar. Salah satunya, dengan apa yang terlihat saat ini dalam rangka mencari kemulyaan sang anak yaitu dirinya dengan jalan bertarung melawan saudaranya sendiri yang berniat makar. Tetapi mengapa Prabu Kacanegara yang dibela, dicarikan kemuliaannya malah diam seribu bahasa, dan tidak bertindak membantu ibunya yang kerepotan.

Prabu Kacanegara pun turun tangan menghadapi Raden Brajadenta, tetapi malah dia minta untuk dibununh saja dan mempersilahkan Raden Brajadenta menguasai Pringgandani. Hal demikian membuat Raden Brajadenta tersinggung, marah, dan menyeranga Prabu Kacanegara. Prabu Kacanegara tidak melawan sang paman, karena bagi dia orang tua harus dihormati. Akhirnya Raden Brajamusti pun tidak sampai hati melihat Prabu Kacanegaea. Alhasil Raden Brajadenta berhadapan denegn raden Brajamusti, mereka pun mati sampyuh.

Prabu Kacanegara menangis minta maaf kepada kedua pamanya, samar-samar terdengar suara roh Raden Brajdenta dan Brajamusti yang menjelaskan maksud sesungguhnya. Dengan cara tersebut mereka dapat membantu Prabu Kacanegara menjadi raja di pringgandani. Mereka berdua sebenarnya adalah ajian Prabu pandupandu yang diwariskan kepada Prabu Tremboka ayahnya dan kemudian berubah menjadi dua raksasa kembar. Dan kini Kembali pada wujud sesungguhnya yaitu ajian Brajadenta yang menyatu dengan tangan kanan Prabu Kacaneagra, sedangkan ajian Brajamusti menyusup di tangan kiri Prabu Kacanegara untuk menambah kesaktiannya.

Sumber: Trianto Ibnu Badar at-Taubany, 2023, "1001 Atlas Tokoh Wayang Purwa Multi Gagarak", Dummy Buku


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tokoh Wayang: Prabu MANIKMANINTEN

Puisi: Sumpahku. Sumpahmu, Sumpah KIta

Putiba: Sang Pelebur Angkara